“Bang, besok kita jadi sunmorikan?”
Aku bertanya sambil melipat baju yang baru saja diangkat dari jemuran.
Suamiku yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.
“Jadi. Memangnya kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa. Takut Abang lupa aja.”
Dia tertawa.
“Yang ngajak siapa?”
“Ya aku.”
“Terus yang lupa siapa?”
Kami pun tertawa bersama.
Sudah beberapa minggu terakhir kami memang berencana melakukan Sunday Morning Ride atau Sunmori berdua. Bukan perjalanan jauh atau touring ke luar kota. Kami hanya ingin mengendarai motor pagi-pagi, mencari tempat sarapan, lalu menikmati suasana sebelum kembali ke rumah.
Maklum, setelah menikah dan sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing, waktu untuk sekadar pergi berdua ternyata tidak selalu mudah dicari.
Sebenarnya bukan tidak punya waktu. Kami saja yang terlalu sibuk sampai nggak sempat meluangkan waktu. Karena itu, Sunmori kali ini terasa seperti agenda kecil yang cukup kami nantikan.
Malamnya, kami mulai mempersiapkan perlengkapan, mulai dari helm, jaket, sarung tangan, kaos kaki, kacamata, semuanya sudah disiapkan. Suami juga mengecek kondisi motor, sementara aku menyiapkan tas kecil berisi dompet, ponsel, tisu, air minum, dan beberapa barang lainnya. Tak lupa aku juga memasukkan satu benda yang baru beberapa hari terakhir selalu ada di tas. #InstoDryEyes.
Sebenarnya, aku baru membeli produk itu ketika sedang berbelanja di supermarket beberapa hari lalu. Waktu itu aku memang sedang mencari beberapa kebutuhan rumah. Setelah selesai mengambil barang-barang yang dibutuhkan, aku melewati rak perlengkapan kesehatan. Mataku kemudian tertuju pada Insto Dry Eyes.
Aku langsung teringat beberapa hari sebelumnya ketika mataku terasa kering dan sepet setelah terlalu lama bekerja di depan laptop. Mengingat pekerjaanku sebagai seorang penulis freelance dan kebetulan ada beberapa deadline yang harus kelar.
“Kayaknya perlu punya ini di rumah,” pikirku.
Akhirnya aku membeli satu botol untuk persediaan. Tidak ada rencana khusus akan digunakan kapan. Pokoknya, hanya untuk berjaga-jaga saja dan menambah persediaan di kotak obat.
Karena besok mau Sunmori bareng suami dan aku tahu perjalanan pagi bisa membuat mata terpapar angin dan debu, jadi tak ada salahnya untuk bawa si mungil biru ini dalam tas selempangku.
Pagi yang Ditunggu Akhirnya Tiba
Alarm berbunyi pukul lima pagi. Setelah sholat subuh, rasanya ingin menarik selimut lagi, tetapi langsung teringat rencana kami. Akhirnya aku bersiap sambil menunggu suami pulang dari Mesjid.
Beberapa menit kemudian kami sudah bersiap. Setelah sarapan ringan, suami mengecek motor sekali lagi.
“Bensin aman.”
“Ban?”
“Aman.”
“Surat-surat?”
“Aman.”
Aku mengangguk puas.
“Kalau begitu gas.”
Kami pun berangkat.
Udara pagi terasa sejuk. Jalanan belum terlalu ramai. Beberapa orang terlihat sedang berolahraga, sementara pedagang mulai membuka warung. Aku duduk di belakang suami sambil menikmati perjalanan.
Sesekali kami mengobrol. Sesekali aku menunjuk sesuatu yang menarik di pinggir jalan.
“Bang, nanti kita berhenti di sana, ya. Kayaknya tempatnya bagus.”
“Boleh.”
Sederhana sekali. Tapi justru momen seperti ini yang belakangan jarang kami lakukan.
Angin Pagi Tidak Selalu Bersahabat
Setelah hampir setengah jam berkendara, kami mulai keluar dari kawasan yang cukup ramai. Jalanan lebih terbuka dan angin pun terasa semakin kencang. Aku awalnya menikmati saja. Namun beberapa menit kemudian, mataku mulai terasa sedikit sepet. Mungkin karena kaca helm kunaikkan ke atas karena aku ingin menikmati angin pagi menerpa wajahku. Aku berkedip beberapa kali dan mengabaikannya rasa tak nyaman di mata.
Perjalanan masih cukup jauh. Di beberapa bagian jalan, kendaraan yang lewat juga membuat debu beterbangan. Mataku mulai terasa kering dan agak perih. Aku pun semakin sering berkedip.
“Bang, nanti berhenti sebentar ya.”
Suamiku mengangguk.
“Kamu kenapa?”
“Mataku agak nggak nyaman.”
“Oke. Kita cari tempat berhenti.”
Tidak lama kemudian, kami menemukan sebuah warung yang cukup nyaman untuk beristirahat.
Suami memarkirkan motor. Aku langsung melepas helm. Rasanya lega sekali.
“Matamu kenapa?”
“Kayaknya kering. Dari tadi kena angin.”
“Jangan diucek.”
“Iya, tahu.”
Aku tertawa kecil.
Padahal memang tanganku tadi hampir saja mengucek mata.
Pelahan kubuka tas selempangku dan mengambil Insto Dry Eyes.
Suamiku langsung melihat.
“Yang kemarin kamu beli?”
“Iya.”
Aku menggunakannya sesuai petunjuk pada kemasan, kemudian memejamkan mata sebentar.
Suamiku mengambilkan air minum.
“Sudah?”
“Sebentar.”
Aku menikmati waktu istirahat beberapa saat sebelum kembali bersiap. Setelah mata terasa lebih nyaman, aku memasukkan kembali botol kecil itu ke dalam tas.
“Untung dibawa.”
“Abang mau pake juga?” tanyaku.
“Boleh deh, tolong tetesin ya,” katanya.
Aku tertawa.
“Iya, Pak Suami.”
Sarapan Berdua dan Cerita yang Tidak Ada Habisnya
Kami melanjutkan perjalanan ke tempat yang sejak tadi ingin kami datangi. Sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan. Warungnya jauh dari kata mewah, tidak ada tempat yang instagramable. Tapi tempat ini menawarkan makanan yang enak sambil duduk santai berdua.
Kami memesan makanan dan minuman hangat. Seraya menunggu pesanan datang, kami mulai membicarakan banyak hal. Tentang pekerjaan, rumah, rencana akhir pekan berikutnya dan hal-hal kecil yang sebenarnya bisa kami bicarakan kapan saja. Obrolan seperti inilah yang membuat kami sadar bahwa quality time tidak selalu membutuhkan rencana besar.
Setelah selesai makan, kami akan melanjutkan perjalanan sebentar sebelum akhirnya pulang. Kali ini aku lebih memperhatikan kondisi mata. Kaca helm kuturunkan hingga menutupi wajah, kacamata kupasang lagi karena saat perjalanan pertama tadi sengaja tidak kupakai.
Ternyata Mata Juga Butuh Perhatikan
Sesampainya di rumah, aku kembali memikirkan kejadian tadi. Selama ini aku sering menganggap mata sepet atau kering sebagai gangguan kecil. Kalau nggak benar-benar sakit biasanya akan kubiarkan saja. Perih sedikit nggak papa, paling sebentar juga hilang. Pemikiran seperti ini yang harusnya tidak boleh terus dipertahankan karena mengabaikan rasa tak nyaman pada mata bisa saja berakibat fatal nantinya.
Apalagi ketika sedang berkendara dan berada di luar ruangan. Angin dan debu bisa membuat mata terasa tidak nyaman. Belum lagi ketika sampai tujuan, kita masih ingin berfoto, melihat pemandangan, atau sekadar menikmati suasana. Kalau mata sudah terasa perih, tentu jadi kurang nyaman.
Dari pengalaman Sunmori ini, aku belajar untuk lebih memperhatikan kondisi mata. Aku mulai melakukan kebiasaan sederhana seperti memberikan waktu bagi mata beristirahat dan menghindari menguceknya ketika terasa tidak nyaman.
Aku juga memastikan untuk membawa Insto Dry Eyes dalam tas. Karena ternyata si imut ini bisa jadi pertolongan pertama ketika mata terasa tak nyaman. Sekarang, #MataSePeLejanganSepelein udah jadi mottoku biar bisa #BebasMataKering dan semua aktivitasku bisa berjalan aman dan lancar.








Be First to Post Comment !
Posting Komentar